This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
Rabu, 16 Januari 2013
Penilik PAUD Protes ke Dinas Pendidikan Indramayu Diduga Terjadi Penyunatan BOP
Posted by Realita Nusantara
15.43, under |
REALITA NUSANTARA – ONLINE. INDRAMAYU
Indramayu - Para penilik
program pendidikan anak usia dini (PAUD) se-Kabupaten Indramayu, Jawa Barat,
protes karena merasa tidak difungsikan sesuai tugas pokok dan fungsinya
(tupoksi) di lapangan.
Para penilik, misalnya, tidak
dilibatkan dengan adanya program BOP (biaya operasional pendidikan) dan APE
(alat permainan edukatif) yang sedang bergulir di wilayah itu.
Kebijakan Dinas Pendidikan Indramayu
melalui Kabid PLS (Pendidikan Luar Sekolah) dan Kasi PAUD yang membidangi hal
tersebut dinilai oleh para penilik tidak mendukung upaya memajukan pendidikan
di Indramayu.
"Padahal, para penilik PAUD
memiliki tugas sebagai pelaksana teknis di lapangan dan sebagai penjamin mutu
pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal."
Hal itu diutarakan oleh Sekretaris
Ikatan penilik Indonesia (IPI) Kabupaten Indramayu yang juga statusnya sebagai
penilik PAUD di Kecamatan Indramayu, Rusli, SPd, ketika dikonfirmasi Suara
Karya, Senin (3/9).
Ia menegaskan, penilik tidak dihargai
sesuai dengan SK atau tupoksi yang diembannya. Sementara koordinator PAUD yang
dibentuk di setiap kecamatan bersikap sewenang-wenang atau diskriminatif
tentang bantuan yang dikucurkan dan terkesan tidak adil cara memberikan
bantuannya kepada PAUD yang ada.
Ia mengungkapkan, lembaga PAUD yang
menerima bantuan BOP dimintai jasa oleh koordinator PAUD di masing-masing
kecamatan sebesar Rp 250 ribu dengan alasan dikondisikan oleh Dinas Pendidikan
kabupaten melalui Kabid PLS dan Kasi PAUD. Termasuk tunjangan insentif bagi
guru PAUD yang tidak jelas status dan latar belakang pendidikannya, yang
minimal masa kerjanya dua tahun.
Kabid PLS Akil didampingi Kasi PAUD
Ridwan ketika dikonfirmasi Suara Karya mengatakan, kalau memang ditemukan kasus
di lapangan seperti itu, maka akan diperbaiki kinerjanya. Mereka akan segera
mengadakan rapat dengan para penilik PAUD. (SK)***
Kamis, 27 Desember 2012
Proyek Rehabilitasi Seuseupan Beraroma Korupsi?
Posted by Realita Nusantara
17.45, under CIREBON JAWA BARAT |
REALITA NUSANTARA – ONLINE. CIREBON
CIREBON, INTI JAYA - Proyek Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.1 Seuseupan Karang
Wareng Cirebon (sungai induk jurai) diduga beraroma Korupsi hal tersebut
ditengarai saat wartawan terbitan ibu kota ini lakukan investigasi kelokasi
proyek. Nyatanya proyek yang dananya bersumber dari APBN 2012 dengan nilai
kontrak Rp. 1.749.864.000,- diduga tidak sesuai Bestek.
Buktinya bangunan belum rampung dan
terkesan asal jadi terlihat dibeberapa bagian seperti adukan yang masih tampak
kelihatan tanah seperti tidak ada semen. Nyatanya pihak BBWS tidak segera
menegur CV Pemenang Tender kalau tidak mau disebut kongkalikong mestinya pihak
BBWS segera bertindak membeklis rekanan yang nakal.
Menurut Humas BBWS saat dikonfirmasi
via ponselnya mengatakan, seharusnya jika ada penyelewengan, dilaporkan sejak
awal. Sehingga bisa ditindaklanjuti. “Jangan sudah selesai baru melapor, kalau
begini kan kami yang repot. Masih menurut Staf Humas, namun kami BBWS terima
kasih sekali atas informasi mas, tentu ini akan menjadi masukan yang paling
berharga buat BBWS,” ujarnya saat dikonfirmasi. (Akmad Khotib MF)***
Sumber:
KUWU PURWAJAYA DIDUGA PUNGLI SOAL PEMASANGAN LISTRIK DESA
Posted by Realita Nusantara
17.33, under INDRAMAYU JAWA BARAT |
REALITA NUSANTARA – ONLINE. INDRAMAYU
Indramayu, Inti Jaya - Program pemasangan instalasi listrik desa (Lindes) tahun
2012 di Desa Purwajaya Kecamatan Krangkeng Kabupaten Indramayu diduga sarat
penyimpangan, hal tersebut dikuatkan berdasarkan hasil rekam jejak yang
dilakukan Inti Jaya di beberapa lokasi, ternyata dari 85 penerima bantuan
Lindes yang ada di tiga dusun desa tersebut telah dipungut biaya sebesar Rp.
500.000,- lalu untuk apa dana tersebut ?
Saat Inti Jaya berhasil mewawancarai
salah satu warga yang tidak mau disebutkan jati dirinya mengatakan “saya
diminta 500 ribu pak, namun saya keberatan, sebab program ini kan gratis
nyatanya dari 85 penerima semuanya telah dipungut, menurut koordinator
pemasangan Lindes, kalau tidak membayar 500 ribu, tidak bakal dipasang, bahkan
dengan nada mengancam kalau tidak bayar akan diberikan pemasangannya kepada
pihak lain, masih menurut sumber “yang lebih gilanya lagi, nawar saja tidak
boleh, sebab saya sudah ngomong kepada bekel Sayidi koordinator pemasangan
Lindes bahwa saya punya uang hanya 200 ribu, nyatanya tetap ditolak dengan
alasan sudah menjadi keputusan, kalau sudah menjadi keputusan mestinya jangan
mengatakan sumbangan, yang namanya sumbangan itu kan suka rela, apalagi menurut
pejabat Dinas ESDM wilayah V Cirebon, bahwa pemasangan itu gratis, yang tidak
habis pikir, kenapa dalam daftar penerima program blok templik itu hanya 19,
nyatanya bisa bertambah menjadi 29, kemudian penerima yang sudah ada daftarnya
kok bisa tidak menerima, ada apa ini? Jelas berarti ada yang tidak beres.
Pada kesempatan yang sama Inti Jaya
berhasil mewawancarai H. Mino di kediamannya terkait pungutan Rp. 500 Ribu
mengatakan “Program pemasangan Listrik Desa (Lindes) tahun 2012 yang diberikan
Provinsi Jawa Barat memang benar itu gratis, tapi bukan berarti gratis tis,
menurut saya itu hal yang lumrah, saat dicegat pertanyaan terkait pungutan 500
Ribu, menurut H. Mino, pungutan itu untuk operasional dan honor yang kerja,
sebab saya sendiri sudah mendapatkan semacam dukungan dari Kabag Pemerintahan
Kab. Indramayu, katanya bahwa yang namanya kuwu itu harus mampu menciptakan
pembangunan, jadi saya sebagai kuwu depinitif hanya melaksanakan tugas dan
bertanggung jawab dengan pungutan tersebut, lanjutnya pada Inti Jaya, pungutan
tersebut sudah berdasarkan musyawarah dengan Lembaga Desa, jadi tolong mengenai
pungutan Lindes jangan dikaitkan dengan program.
Masih menurut H. Mino “intinya Mas,
saya tidak akan mundur dalam memperjuangkan pembangunan di Purwajaya, dengan mencuatnya
masalah ini jelas ada pihak-pihak yang bermain yang sengaja menghasut dan
memprovokasi warga, kalau itu caranya jelas orang tersebut tandanya mau
menghancurkan masa depan Desa Purwajaya, ujarnya sambil meminta kepada Inti
Jaya agar masalah pungutan tidak diberitakan di media.
Namun beberapa warga yang berhasil
dikonfirmasi Inti Jaya beberapa waktu lalu menyangkal ucapan H. Mino “kalau
yang namanya sumbangan itu harus suka rela, bukan ditentukan nominalnya, lagi
pula harus kepada semua masyarakat Desa Purwajaya, kenapa ini hanya memungut
kepada penerima Lindes saja, ini kan jelas-jelas tidak benar, jadi apa yang
dilakukan H. Mino itu hanya bentuk pembelaan dirinya saja, karena sudah
diketahui Mas-mas yang dari media “Bebernya dengan nada tinggi. (A. Khotib/Walim SH. MH./Monang Sembiring)***
Sumber:
PDAM Juntinyuat Rentan KKN
Posted by Realita Nusantara
14.25, under INDRAMAYU JAWA BARAT |
REALITA NUSANTARA – ONLINE. INDRAMAYU
INDRAMAYU, SINAR PAGI
– Direktur Utama PDAM Tirta Darma Ayu Kab. Indramayu, Ir. Suyanto selayaknya
mengganti Kepala Unit PDAM Juntinyuat Jubaedi dengan personil yang lebih
profesional, terutama dalam urusan pelayanan kepada masyarakat.
Pasalnya,
Jubaedi cenderung rentan terhadap praktek berindikasi korupsi (KKN). Tengok
saja praktek percaloan yang marak dilingkup PDAM Juntinyuat diduga kuat
melibatkan orang dalam berinisial DAR, tapi hingga kini masih adem ayem saja.
“Saya
tidak mengendalikan di lapangan, benar atau tidaknya,” kata Jubaedi diruang
kerjanya, saat disinggung SINAR PAGI terkait percaloan pemasangan saluan air
hingga bernilai 2 juta.
Padahal,
Humas PDAM Tirta Darma Ayu, Lilik menegaskan, harga pemasangan saluran air PDAM
berkisar antara Rp 825 ribu hingga Rp 925 ribu.
Tak
hanya itu, keluhan juga dialami warga Desa Lombang berinisial PEN, lantaran
pihaknya sudah menyetorkan uang Rp 1 juta.
Namun,
setoran uang tersebut sempat lambat sampai ke petugas PDAM Juntinyuat,
gara-gara peran calo yang cukup dominan.
Ironisnya,
Kepala Unit PDAM Juntinyuat Jubaedi juga terkesan lemah dalam urusan pengawasan
dan penindakan terkait percaloan, kepada pejabat yang satu ini justru
berpotensi besar membiarkan atau menyuburkan praktek yang merugikan masyarakat.
“Kalau
ada seorang Kuwu (Kepala Desa) yang datang ke saya untuk meminta bantuan agar
saudaranya dimudahkan dalam urusan pemasangan saluran air PDAM Juntinyuat,
masak iya saya tidak melayaninya atau membantunya,” seru Jubaedi dengan
enteng. Sutawijaya***
Sumber: Harian Umum SINAR PAGI, edisi 17-23 Desember 2012; Hal. 9
Jumat, 23 November 2012
KEPALA UPTD PENDIDIKAN KEC. HAURGEULIS DIDUGA PERAS CALON KEPALA SEKOLAH
Posted by Realita Nusantara
21.31, under INDRAMAYU JAWA BARAT |
REALITA NUSANTARA – ONLINE. INDRAMAYU
INDRAMAYU, INTI JAYA
– Kepala UPTD Pendidikan Kec. Haurgeulis Kabupaten Indramayu, Jawa Barat,
Riyanto, S.Pd., M.Si diduga peras sejumlah calon kepala sekolah di wilayah
kerjanya saat rekruitmen dan fit and proper test.
Lembaga
pendidikan yang notabene untuk mencetak orang-orang seperti Habibie, namun,
ketika menempatkan seorang kepala sekolah diduga dilakukan asal-asalan dan
berlumuran uang, yang penting ada sejumlah pulus (uang-red). Seharusnya
penyaringan serta penjaringan para calon kepala sekolah dilakukan secara
profesional dan sesuai aturan yang ada, tidak asal punya pulus otomatis duduk
menjadi kepala sekolah.
Bahkan,
fenomena seperti ini diduga terjadi pada hampir setiap UPTD Pendidikan di
Kabupaten Indramayu, tidak hanya di UPTD Kecamatan Haurgeulis saja, sehingga
kualitas kepala sekolah banyak yang tidak siap pakai, baik mengelola manajemen
proses belajar mengajar maupun memprogsess administrasi bahkan tak banyak ada
kepala sekolah yang kelihatan linglung, akibat dari salah perekrutan menambah
buruknya citra pendidikan di Kabupaten Indramayu.
Kepala
UPTD Kecamatan Haurgeulis ketika ditemui Inti
Jaya (1/10) di kantornya mengelak semua tuduhan tersebut dan berusaha
menghindar dari wartawan sambil berkata, kenapa kalian menjustice saya dan
ditengarai malah Riyanto menuding Ahmadi selaku Ketua PGRI Kecamatan Haurgeulis
yang bermain uang. Saya sama sekali tidak pernah memungut apalagi memeras para
calon kepala sekolah, sambil bergegas pergi naik ke mobil dinas UPTD mengupat
wartawan mencari-cari saja masalah, tunggu saya karena ada yang lebih krusial
dari persoalan ini, orang tua saya sakit, ingat tolong dicatat dan tidak
dipelintir beritanya, tegas Riyanto.
Sementara
Drs. Oyo Haryanto, MM Pengawas SD di UPTD Haurgeulis mengomentari tentang carut
marutnya penerimaan calon kepala sekolah beberapa waktu lalu, sebetulnya
tentang pencalonan kepala sekolah semua berdasarkan mekanisme dan aturan tidak
acakadul apa yang ditudingkan, tugas saya hanya menjalankan perintah atasan
tidak lebih dari itu. Bicara tentang penerimaan uang pelicin saya sama sekali
tidak tahu menahu kalaupun demikian kami sudah menempuh secara aturan, seolah
sang pengawas membela atasannya UPTD Haurgeulis (Riyanto-red). “MIKUL DUWUR
MENDEM JERO”, karena kita semua bukan terlahir dari rahim malaikat pasti ada
kelemahan dan kekeliruan, tidak ada gading yang tak retak, kata Oyo pada Inti Jaya.
Menurut
sumber Inti Jaya kalau penerimaan
calon kepala sekolah beberapa pekan lalu jelas memakai pulus berkisar 10 juta
rupiah setiap calon, namun ironisnya, Kepala UPTD Kecamatan Haurgeulis Riyanto,
S.Pd., M.Si mengatakan, kalau kutipan-kutipan pulus tersebut diperuntukkan
untuk dana perjuangan, hal tersebut menirukan statemennya Kepala UPTD.
Adapun
sejumlah calon kepala sekolah yang kini sudah duduk di kursi panas pemimpin
diantaranya, Eka, Ela, Eem dan Nur, sayang bagi Ade malang tak dapat ditolak
untung tak dapat diraih sampai sekarang beliau belum mendapatkan tempat padahal
menurut informasi seluruh akomodasi serta biaya-biaya pencalonan sudah dipenuhi
tapi masih masuk daftar tunggu. (M. Ghozali/Benyamin/MS)***
Sumber : Surat Kabar
Independen INTI JAYA; Edisi 2470 Tahun Ke-42 07 – 13 November 2012; Hal 5***





